Homo Nostalgie

gnosticwarrior.com

Konon, di kepala manusia terdapat semesta internal. Semesta internal itu jauh lebih luas dan penuh enigma ketimbang semesta eksternal jagad raya kita. Semesta itu bernama: otak. Ia mengherankan filsuf, seniman, ilmuwan, ulama dan semua orang sepanjang zaman.

Di dalamnya terhimpun hubungan-hubungan neuron yang bekerja lewat mekanisme elektrik, neurotransmitter dan lajur sinapsis-sinapsis. Milyaran unit sel saraf bekerja lewat birokrasi kimia, fisika dan biologi yang sangat ketat. Menurut penelitian neurosains paling mutakhir, jika neuron itu dibentangkan, jaraknya sekitaran 850.000 kilo meter!.

Dengan jarak segitu, artinya bentangan sel saraf dalam otak manusia sudah melampaui diameter planet bumi!. FYI, diameter dari bumi rumah kita tercinta ini adalah 12.472 kilo meter. Jika kita bandingkan keduanya, seolah diameter bumi ini tiada apa-apanya. Dengan kata lain, otak kita ini teramat sangat-sangat luas.

Ketika otak kita sedang bekerja, impuls-impuls elektrik menjelajah hubungan jalur saraf kita yang panjang itu. Bayangkan, sekali kita mencoba aktivitas berpikir, ibaratnya seperti mengelilingi bumi lebih dari 50 kali!. Jadi, tak heran kenapa kalau banyak mikir itu bikin pusing kepala.

Akan tetapi, apa sih yang paling teristimewa dari otak manusia?. Di antaranya adalah lobus pre-frontalis dan hippocampus-amygdala. Kerja sama dari kedua bagian otak ini membikin manusia unggul atas segala organisme yang pernah ada. Dialah causa prima sehingga kita mampu bernalar, merancang, berfiksi, beremosi, bermemori menyimpan milyar ingatan–sadar ataupun bawah sadar.

Dari sekian banyak kemampuan otak itu, memori adalah salah satu yang paling utama. Memori memang metafisika otak yang unik. Lewat memori, kita bisa mengenal kenangan dan nostalgia. Namun, ada yang perlu diperjelas di sini. Apa tepatnya beda kenangan dan nostalgia?.

Kenangan masih bersifat umum, non-spesifik dan holistik. Komponen kenangan masih bisa kita rasakan berupa bahagia, manis, pahit, kelam dll. Singkat kata, di dalam kenangan semua sensasi masih bercampur aduk. Lantas, bagaimana dengan nostalgia?.

Nostalgia adalah komponen memori paling spesifik dan partikular. Dari semua isi memori, nostalgia adalah yang paling unik. Tak seperti kenangan, nostalgia punya sebuah komponen pengikat yang bernama: kerinduan. Gamblangnya, nostalgia adalah kerinduan pada semua momen indah dalam horizon kehidupan. Semua kejadian terbaik hidup kita tersimpan di sana.

Diam-diam, nostalgia suka merasuki hubungan sistem saraf otak kita yang luas itu. Ia menyelinap ke sirkuit neurotransmitter otak dan celah sinapsis-sinapsis. Keberadaannya merangsang hormon endorphin, dopamin dan serotonin untuk keluar. Ketiganya dikenal sebagai hormon yang membuat kita merasa bahagia. Inilah mengapa kita merasa nyaman dan senang kala bernostalgia. Sampai membekas di dalam benak.

Ngomong-ngomong, mengapa nostalgia diciptakan? Mengapa nostalgia itu tercipta inheren bersama otak kita? Mengapa memori mempunyai fungsi nostalgia? Adakah fungsi nostalgia bagi kehidupan umat manusia?. Ngapain sih kita bernostalgia?. Sebab, hanya manusialah yang mampu bernostalgia. Artinya, manusia adalah makhluk nostalgia (Homo nostalgie).

Dahulu kala, sebelum Dragon Ball ditemukan, Charles Darwin pernah coba mencari asal usul kehidupan dan manusia lewat studi perbandingan kerangka antara hewan dan manusia. Ternyata, ada banyak kemiripan. Khususnya dengan bangsa primata Neanderthal. Dari sudut pandang kerangka, nyatanya manusia masih berkerabat dengan beberapa primata lainnya.

Akan tetapi, Darwin ternyata melewatkan hal penting: Adakah hewan yang bisa melakukan nostalgia?. Adakah primata lain yang bernostalgia?. Sejauh ini, belum ada satu primata pun yang nongkrong-nongkrong sambil (misalnya) bercerita tentang betapa indah masa kecilnya dulu, selain kita manusia. Dengan bahasa mereka tentunya. Ataukah kitanya saja yang saat ini masih belum bisa mengerti bahasa primata lain?. Setidaknya, sampai sejauh ini, para ilmuwan masih mencoba untuk menyelidiki bahasa-bahasa mereka.

Di sisi lain, ada juga binatang yang punya memori di otaknya. Namun, ia tak bisa bernostalgia. Karena kita ini adalah mamalia, mari ambil contoh saja kelas mamalia lain: beruang kutub. Sang ibu beruang mungkin masih bisa merasa sedih tatkala terpisah dengan anak-anaknya. Keberadaan memori di otaknya membuat ia merasa sedih akibat kehilangan. Sama halnya seperti ibu dan anak manusia. Ya, setiap mamalia memiliki ikatan emosional dengan ibu. Inilah alasan kenapa manusia juga digolongkan sebagai mamae (mamalia).

Tapi, tentu saja, sang ibu beruang tak bisa bernostalgia tentang hubungan cintanya pertama kali dengan sang beruang jantan. Keluarga beruang tak pernah merayakan ritual happy anniversary dan sejenisnya.

Ya, itu kata kuncinya: ritual. Nostalgia adalah juga ritual khas bagi manusia.

Ritual nostalgia paling populer biasanya dimulai saat hujan sedang turun dan… lagi berdua dengannya. Dengan dia yang selama ini membuatmu nyaman. Dengan dia yang membuatmu merasa tenang. Dengan dia yang membuatmu tersenyum. Dengan dia yang membuatmu lupa tentang waktu. Dengan dia yang… ah sudahlah.

Akan tetapi, apakah nostalgia hanya menyoal cinta-cintaan dan kisah romantisisme picisan?. Jelasnya: tidak.

Nostalgia lebih dari itu.

Dulu generasi filsuf Yunani kuno, Aristoteles, pernah merumuskan tentang konsep logika untuk pertama kali. Logika adalah sebuah seni berpikir lurus berlandaskan premis-premis untuk menemukan sebuah kebenaran. Ia menamakannya dengan: silogisme. Oleh karena itu, ia mendefiniskan manusia sebagai animal rationale.

Tapi, Aristoteles pun juga masih kurang teliti layaknya Darwin. Nyatanya, toh ada hal lain selain logika-rasional. Yaitu, memori bersama nostalgianya.

Jika logika itu adalah seni berpikir maka nostalgia adalah sebuah seni bermemori.

Nah, kalau manusia adalah makhluk bernostalgia, barangkali nostalgia berhubungan juga dengan kemanusiaan atau humanisme yang universal?. Jangan-jangan, ada banyak hal yang dapat kita petik dari sana…

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close